Memaknai Kehidupan Sebelum Kematian

Pulang.

Bila mendengar satu kata ‘pulang’, apakah yang terpikir olehmu, teman? Lalu, bagaimanakah perasaanmu saat engkau mendengarnya? Dan pada saat yang sama, apakah yang engkau lakukan? Ya, apabila engkau berhadapan dengan kata ‘pulang’.

Kampung halamanku, Minang. Ya, ia memintaku pulang. Kembali padanya segera dan secepatnya. Karena memang. Sudah sekian lama aku tak pulang-pulang. Sudah seperti petualang sejati saja, aku ini.

Pulang.

Bukan aku tak ingat pulang. Apalagi untuk tak merindukan si cantik, Minang. Negeri elok tempatku dilahirkan, belajar berjalan, tumbuh belia hingga remaja. Sebelumnya aku lama bersamanya. Menikmati pesona elok alamnya nan penuh ketenangan. Negeri yang saat ini jauh dari pandangan. Minang, aku terkenang.

Pulang.

Lagi dan lagi panggilan datang. Panggilan yang memintaku untuk pulang. Yah, pulang. Untuk berkumpul bersama sanak saudara, karib kerabat dan handai taulan. Bersua tetangga dan teman sepermainan. Hingga bersapa lagi dengan alam persawahan yang kehijauan. Ah. Aku terkenang. Aku rindu mereka semua. Semua yang setelah beberapa tahun ku tinggalkan. Ya, hampir sepuluh tahun, teman.

Pulang.

Ini adalah satu kata yang kembali terngiang-ngiang dalam ingatan. Satu kata yang mengalir deras dari nada suara beliau di seberang sana. Ya, beliau yang memintaku pulang. Untuk menempuh hari-hari berikutnya bersama beliau tersayang. Etek, Mak Etek, Mak Angah, Ayah dan Amak. Kamanakan dan tetangga. Semuanya kini begitu lekat dalam ingatan. Saat ini, wajah-wajah beliau bermain-main di pelupuk mata. Lalu menepi sejenak dalam pikiran. Beliau memintaku pulang.

Pulang.

Aku sungguh dan bertekad untuk bertegar-tegar hingga sekarang. Aku tabah dan berteguh-teguh sepanjang waktu. Hingga aku tidak dapat lagi membedakan, apakah ini perintah atau hanya permintaan. Ya. Berhubung sudah sekian lama aku di perantauan. Dan menurutku, di kampung halaman adalah selalu lebih mudah ku mengenang. Mengenang kebersamaan yang senantiasa mengalir panjang dan tak berkesudahan. Berbeda dengan ketika ku baru menginjakkan kaki di tanah rantau, saat ini di sini, aku mengalami keadaan yang sama seperti ketika di kampung halaman. Ya, karena aku betahan. Aku adalah tipe yang senang berada di satu tempat. Dan hingga saat ini pun sama. Lama di perantauan sungguh tidak terasa. Ternyata sudah berganti tahun, rupanya. Sedangkan aku merasa baru datang di sini. Hi! Aku tiba-tiba sudah diminta pulang. Wahai Allah Yang Maha Penyayang. Bila pulang adalah yang terbaik untuk kehidupanku yang akan datang, maka lancarkanlah jalan menuju pulang. Aamiin ya Allah.

Pulang.

Untuk menjalaninya memang tak mudah. Karena memang begitu adanya. Ya, sebagai seorang pejuang, maka tiada waktu dan hari-hari ku yang terbuang. Termasuk waktu luang. Hampir seluruhnya berisi aktivitas dan kegiatan. Sehingga tak terpikir pulang, namun aku tenang.

Pulang.

Ia adalah sebuah kata yang kembali terngiang. Kata yang mengajakku berpikir dan merenungkan. Bahwa pulang adalah sebuah perintah dari beliau yang tersayang. Pulang adalah kebanggaan bagi beliau yang lama tak berjumpa. Pun, pulang adalah sebuah harapan yang apabila ia terlaksana, maka rona kebahagiaan pun memancar benderang. Wajah-wajah beliau yang tersayang, akan berbinar terang. Ya Allah… Satu harapanku saat pertama kali melangkahkan kaki dari ranah Minang adalah ingin membahagiakan beliau yang ku sayang. Ya, demi senyuman beliau yang sering mengembang di wajah, maka aku rela melangkah. Ku mulai dengan Bismillah, berbekal doa yang indah. Pun nasihat serta rupiah. Meskipun beberapa lembar yang ku bawa, titipan untuk ku. Yah. Aku memang tidak membawa banyak barang ataupun benda di awal merantau. Namun bekal terindah yang masih ku ingat dan ku jaga selalu adalah harapan. Ya. Harapan untuk senyuman yang lebih indah pada lembaran wajah Amak dan juga Ayah. Aku pun mulai melangkah.

Pulang.

Saat langkah-langkah ini masih mengayun dengan lepas. Ketika kaki-kaki ini seakan tak mau henti menjejak di tanah tempatku melangkah. Walaupun dalam kondisi lel-lah dan berpeluh basah oleh keringat. Namun sebutir tekad menjadi pengobar semangat untuk teruskan perjalanan. Karena jalan panjang masih membentang. Bebutir pasir masih menghiasi perjalanan. Sedangkan mentari, terlihat lebih sering tersenyum dari kejauhan. Maka pada saat ini, ketika ku sedang berjalan, panggilan pun datang.

Pulang.

Hanya sekata adanya ia, namun bisa mempengaruhiku untuk segera menoleh. Ya, aku sempatkan waktu untuk menggerakkan kepala lalu berpaling ke arah belakang. Aku memandang wajah-wajah beliau yang menatapku dari kejauhan. Wajah-wajah yang penuh harap dengan kepulanganku. Wajah-wajah beliau yang tersayang dan mengharapku pulang. Wajah-wajah yang beberapa saat kemudian mensenyumiku dengan tenang. Ya, beliau tersenyum untukku yang berada di perantauan. Beliau melambaikan tangan bersamaan. Sebagai isyarat untukku. Isyarat yang mengajakku untuk memahami. Isyarat tanpa kata, hanya ekspresi pada wajah dan lambaian yang bergerak senada. Ya, beliau yang jauh di kata, sangat dekat di dalam hati. Beliau yang berpesan melalui nada suara, berasal dari dalam hati. Sehingga hati ku pun tersentuh. Aku pun rindu pulang…

Pulang.

Sebelum satu kata ini kita jalani. Menjelang kita mengalaminya. Apakah yang kita persiapkan? Bekal apakah yang akan kita bawa saat pulang nanti? Pulang ke kampung halaman kita yang abadi. Pulang ke tempat peristirahatan selamanya. Tempat istirahat yang hanya akan berlaku bagi sesiapa saja yang selama di dunia tak banyak istirahat, melainkan terus bergerak dan berjuang. Tempat yang sangat dirindukan untuk pertemuan. Bertemunya untuk saling bereuni dan menyampaikan ucapan salam penuh kebahagiaan. Karena selama-lamanya mereka akan selalu bersama, dan tidak akan berjarak lagi walau sedepa. Ya, mereka akan saling bercengkerama saling berbagi kisah dan cerita. Cerita tentang perjuangan mereka selama di perantauan. Karena selama-lamanya kita merantau, maka akan kembali pada akhirnya ke kampung halaman abadi, akhirat.

Pulang.

Semua kita pasti akan pulang. Semua kita akan kembali. Karena dunia hanyalah perantauan, bagi jiwa-iiwa yang rindu Rabb-nya. Oleh sebab itu teman, mari bergegas kita bangkit untuk meneruskan pengabdian. Bersama saling menasihati pada kebaikan dan kesabaran. Agar kita menjadi hamba-hamba Allah yang beruntung. Bahagia di dunia hingga akhirat. Saling bersapa di perantauan untuk mengumpulkan bekal pulang kita. Pulang untuk tak kembali lagi. Yuuuu’. []

"Selamat melanjutkan aktivitas penuh semangat dan semoga sukses selalu, yaa. Sampai berjumpa lagi di hari esok bertabur senyuman lebih cerah nan indah. Aamiin ya rabbal’alamiin…"
🙂 🙂 🙂

Keep Istiqamah & Salam Ukhuwah,
~My Surya~